Sejarah manusia tidak hanya ditulis dengan tinta, tetapi juga disembunyikan di balik halaman yang dilarang dibuka.
Beberapa buku tidak pernah sampai ke tangan publik bukan karena dilupakan, melainkan karena terlalu berbahaya untuk dibaca.
Dari naskah kuno yang dikutuk, kitab sihir yang memanggil makhluk tak terlihat, hingga manuskrip ilmiah yang bisa mengubah persepsi manusia tentang realitas — dunia memiliki daftar panjang buku terlarang yang eksistensinya selalu dibisikkan dengan rasa takut dan penasaran.
Inilah kisah tentang buku-buku yang tidak pernah ingin dibaca dunia — dan mungkin, tidak seharusnya dibaca sama sekali.
Codex Gigas: Kitab Iblis dari Abad Pertengahan
Dikenal juga sebagai “Devil’s Bible,” Codex Gigas adalah manuskrip raksasa dari abad ke-13 yang panjangnya hampir satu meter dan beratnya lebih dari 75 kilogram.
Legenda mengatakan, buku ini ditulis oleh seorang biarawan yang berjanji menulis kitab terbesar untuk menebus dosa — tapi waktu yang diberikan terlalu singkat.
Dalam keputusasaan, ia membuat perjanjian dengan iblis.
Malam itu, ia menulis seluruh kitab — termasuk Alkitab, catatan medis, mantra eksorsisme, dan satu halaman bergambar wajah setan.
Codex Gigas nyata dan kini disimpan di Perpustakaan Nasional Swedia.
Namun yang membuatnya menakutkan bukan hanya ukurannya, tapi juga auranya:
banyak penjaga melaporkan mendengar suara berbisik dari ruang penyimpanan setiap tengah malam.
Para ilmuwan telah meneliti isinya selama ratusan tahun — namun belum ada yang bisa menjelaskan mengapa tulisan dan gaya penanya identik di seluruh 310 halaman.
Satu orang? Satu malam? Atau sesuatu yang lebih gelap?
Voynich Manuscript: Buku Misterius yang Tak Bisa Dibaca
Ditemukan pada tahun 1912 oleh pedagang buku asal Polandia, Wilfrid Voynich, naskah ini ditulis dalam bahasa yang tidak dikenal manusia.
Bahasanya bukan Latin, bukan Yunani, bukan hieroglif — tapi kode linguistik yang belum pernah didekripsi sampai sekarang.
Manuskrip ini berisi ratusan gambar aneh:
- Tumbuhan yang tidak pernah ada di bumi,
- Wanita telanjang mandi dalam kolam hijau,
- Diagram astronomi yang menggambarkan langit tak dikenal.
Selama seabad, para kriptografer terbaik dunia — termasuk tim dari CIA dan Universitas Yale — mencoba memecahkannya, tapi gagal total.
Beberapa ilmuwan yakin manuskrip ini adalah ensiklopedia ilmu pengetahuan kuno dari peradaban yang hilang.
Yang lain percaya, ini hanyalah karya lelucon abad pertengahan.
Namun tetap saja, tak ada yang bisa menjelaskan mengapa bahasa yang tidak pernah digunakan manusia bisa tertulis begitu sistematis.
Dan itu membuat Voynich Manuscript menjadi misteri linguistik terbesar sepanjang masa.
Necronomicon: Buku Fiksi yang Menjadi Nyata
Nama Necronomicon pertama kali muncul dalam karya fiksi H. P. Lovecraft.
Dalam mitologinya, buku ini berisi mantra kuno yang bisa memanggil makhluk dari dimensi lain — terutama dewa jahat bernama Cthulhu.
Namun anehnya, setelah Lovecraft meninggal, beberapa versi Necronomicon fisik muncul di pasar gelap.
Beberapa ditulis dalam huruf Arab, Latin, dan simbol okultisme.
Buku-buku itu beredar secara rahasia di Eropa dan Timur Tengah, dan beberapa peneliti menyebutkan adanya ritual nyata yang meniru isi buku tersebut.
Beberapa di antaranya dikaitkan dengan kasus pembunuhan dan praktik mistik pada abad ke-20.
Tak peduli apakah asli atau palsu, Necronomicon telah menjadi simbol perbatasan antara fiksi dan realitas.
Sebuah buku yang membuktikan bahwa kata-kata bisa lebih berbahaya daripada senjata.
Picatrix: Buku Sihir Islam yang Diharamkan
Dikenal di dunia Arab sebagai “Ghayat al-Hakim,” buku ini ditulis sekitar abad ke-10 di Andalusia.
Isinya menggabungkan filsafat Yunani, astrologi Babilonia, dan sihir Mesir kuno.
Picatrix dianggap sebagai buku sihir paling berbahaya dalam sejarah Islam.
Ia mengajarkan cara memanggil makhluk gaib, mengubah persepsi waktu, dan menciptakan “pengaruh planet” dalam ritual manusia.
Meskipun banyak salinannya dihancurkan, beberapa terjemahan Latin berhasil bertahan di Eropa dan mempengaruhi para ilmuwan Renaissance seperti Marsilio Ficino dan Cornelius Agrippa.
Ironisnya, dari buku yang dianggap terlarang, lahirlah ilmu alkimia dan astronomi modern.
Namun sampai sekarang, banyak lembaga keagamaan melarang keras penerjemahan penuh Picatrix karena diyakini bisa “membuka pintu yang tak bisa ditutup kembali.”
The Book of Soyga: Buku Rahasia Milik Penasehat Ratu Inggris
Pada abad ke-16, John Dee, penasihat Ratu Elizabeth I dan ilmuwan terkemuka, memiliki buku misterius bernama “The Book of Soyga.”
Buku ini berisi mantra matematika, tabel rahasia, dan kode yang diklaim bisa memanggil malaikat.
Selama berabad-abad, buku ini menghilang, hingga dua salinannya ditemukan di British Library dan Bodleian Library Oxford pada 1990-an.
Yang mengejutkan, dari 36.000 huruf di dalamnya, banyak yang tidak bisa didekripsi oleh komputer modern.
Dee percaya bahwa buku ini bukan ditulis manusia, melainkan “diberikan oleh makhluk surgawi.”
Ia pernah memanggil roh bernama Uriel untuk menerjemahkannya, dan menurut catatan pribadinya, roh itu menjawab:
“Buku ini hanya bisa dibaca oleh yang sudah mati.”
Sejak itu, “The Book of Soyga” dikenal sebagai buku yang bisa dibaca hanya setelah kematian.
The Ripley Scroll: Rahasia Abadi Para Alkemis
Di antara dokumen alkimia kuno, Ripley Scroll menempati posisi unik.
Berbeda dari buku teks biasa, naskah ini berupa gulungan sepanjang enam meter dengan gambar simbolik berwarna emas dan merah.
Ditulis pada abad ke-15 oleh George Ripley, seorang alkemis Inggris, gulungan ini menggambarkan langkah-langkah menuju “Batu Filsuf” — zat legendaris yang bisa mengubah logam menjadi emas dan memberi kehidupan abadi.
Namun yang membuat Ripley Scroll menakutkan adalah simbol-simbolnya.
Banyak simbol di dalamnya identik dengan ikon okultisme Eropa yang baru muncul berabad-abad setelah Ripley meninggal.
Bagaimana mungkin ia tahu simbol yang belum ada di zamannya?
Pertanyaan itu membuat Ripley Scroll dianggap sebagai naskah yang melompati waktu.
The Red Book: Jurnal Gila Carl Jung yang Disembunyikan 50 Tahun
Carl Jung, psikolog legendaris, menulis The Red Book selama masa isolasi pribadinya antara 1914–1930.
Buku ini berisi pengalaman spiritual dan halusinasi yang ia alami selama krisis mental.
Dalam naskah itu, Jung menulis percakapan dengan entitas misterius yang ia sebut “Philemon,” yang mengajarinya konsep ketidaksadaran kolektif.
Ia menulis dan melukis semuanya dengan tangan dalam gaya kitab suci kuno.
Keluarganya menolak menerbitkan buku itu selama 50 tahun karena dianggap terlalu berbahaya bagi reputasinya dan terlalu spiritual untuk ilmu modern.
Baru pada 2009, The Red Book diterbitkan — dan dunia psikologi terkejut.
Karena di dalamnya, Jung sudah menulis teori-teori tentang pikiran bawah sadar, arketipe, dan simbolisme universal yang baru diakui sains modern puluhan tahun kemudian.
The Red Book membuktikan bahwa kadang, kegilaan adalah bentuk tertinggi dari pencerahan.
Indeks Librorum Prohibitorum: Daftar Buku yang Dilarang Gereja
Selama hampir 400 tahun, Gereja Katolik memelihara daftar resmi buku yang dilarang disebut “Index Librorum Prohibitorum.”
Buku apa pun yang dianggap mengancam iman atau tatanan sosial langsung dimasukkan ke daftar hitam ini.
Isinya mencakup:
- Karya Galileo tentang heliosentrisme,
- Buku Copernicus, Descartes, Voltaire, bahkan Jean-Paul Sartre.
Ironisnya, banyak dari “buku terlarang” itu justru menjadi pondasi peradaban modern.
Sains, filsafat, dan seni lahir dari pemberontakan terhadap daftar ini.
Indeks resmi baru dihapus pada tahun 1966, tapi beberapa versi “tidak resmi” diyakini masih digunakan dalam lembaga-lembaga keagamaan tertentu.
Kenapa Buku-Buku Ini Dilarang?
Setiap buku terlarang punya satu kesamaan: ia mengancam kekuasaan.
Bukan karena isinya jahat, tapi karena isinya membuka kemungkinan lain.
Buku-buku ini menantang tatanan:
- Menentang agama,
- Menentang politik,
- Menentang batas antara hidup dan mati.
Dan karena manusia takut pada apa yang tak bisa dijelaskan, mereka memilih mengunci buku-buku itu daripada menghadapinya.
Namun ironisnya, setiap kali sebuah buku dilarang, ia menjadi lebih abadi.
Kesimpulan: Bacaan yang Tak Pernah Usai
Buku-buku terlarang bukan sekadar objek mistik, tapi cermin dari ketakutan manusia terhadap pengetahuan.
Karena dalam setiap halaman yang dibakar, selalu ada satu hal yang tak bisa dihancurkan: keingintahuan.
Mungkin memang ada alasan kenapa sebagian buku tidak boleh dibaca.
Tapi yang lebih menakutkan bukan isi buku-buku itu melainkan mereka yang memutuskan siapa yang boleh membacanya.